Senin, 19 April 2010

Makalah Budaya Hidup Sehat di Pesantren

Mencintai Hidup, Mencintai Tubuh


Kenapa soal tubuh begitu pentingnya buat manusia modern? Dulu, di pesantren, saya tak pernah mengenal hal semacam ini. Bahkan olahraga kurang begitu disukai di kalangan pesantren. Hampir seluruh kehidupan di sana dipusatkan pada apa yang dalam istilah mistik Islam disebut sebagai tahdzib al-nafs, membersihkan jiwa. Sementara menjaga kesehatan badan kurang mendapatkan perhatian yang cukup.

KETIKA sedang menunggu anak saya potong rambut di sebuah salon, saya disuguhi bacaan ringan, Men’s Health, sebuah majalah yang khusus ditujukan buat para pria yang ingin hidup sehat dan bugar. Ada tiga edisi yang disodorkan ke saya. Sampulnya hampir semuanya khas: lelaki dengan otot gempal, kulit mengkilat, dan bentuk tubuh yang menyerupai huruf V. Sudah tentu, lelaki itu tersenyum lebar, seolah ingin menunjukkan kebenaran dari pepatah Latin yang masyhur, bahkan buat anak-anak SD itu: men sana incorpore sano; dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalau anda sehat secara jasmani, maka dengan sendirinya Anda akan sehat secara rohani.

Buat orang yang tumbuh sejak kecil di lingkungan tradisional pesantren, majalah seperti itu membangkitkan sejumlah pertanyaan, atau tepatnya keheranan, buat saya. Kenapakah manusia modern begitu teroebsesi dengan perawatan tubuh? Hampir seluruh halaman majalah itu berisi petunjuk praktis untuk hidup bugar: bagaimana menggunakan alat-alat kebugaran dengan benar; bagaimana menjaga jumlah gula yang kita konsumsi agar tidak menimbulkan obesitas atau kegemukan; bagaimana makan yang sehat; bagaimana latihan beban yang baik agak otot kita tak cedera; dan seterusnya. Sudah tentu ada pula kiat-kiat bagaimana pasutri menjaga kehidupan seksual agar tetap "berkobar-kobar", meskipun mereka telah melangsungkan hidup perkawinan selama seperempat abad.

Kenapa soal tubuh begitu pentingnya buat manusia modern? Dulu, di pesantren, saya tak pernah mengenal hal semacam ini. Bahkan olahraga kurang begitu disukai di kalangan pesantren. Hampir seluruh kehidupan di sana dipusatkan pada apa yang dalam istilah mistik Islam disebut sebagai tahdzib al-nafs, membersihkan jiwa. Sementara menjaga kesehatan badan kurang mendapatkan perhatian yang cukup.

Saat ini, industri kebugaran badan, saya rasa, merupakan salah satu bisnis besar di dunia modern. Di ruang-ruang umum, kita makin sering melihat laki-laki dan perempuan dengan tubuh yang langsing. Di dunia modern, kegembrotan hampir merupakan kutukan. Orang-orang yang gendut akan dicemooh sebagai manusia buruk rupa. Meskipun, sekarang, mulai muncul keberanian orang-orang yang gendut untuk menutut agar citra kegantengan dan kecantikan tak harus diidentikkan dengan kelangsingan. Kelangsingan, bagi mereka itu, hanyalah salah satu "tafsir" atas kecantikan; tetapi bukan satu-satunya tafsir yang mutlak.

Saya kira, ini semua tak bisa diterangkan kecuali melalui satu hal: bahwa "tubuh" merupakan fokus penting dalam kehidupan manusia modern. Dengan agak sembrono kita mungkin bisa mengatakan bahwa salah satu ciri khas kemoderenan adalah perhatian yang besar pada tubuh manusia. Karena kecintaan inilah, manusia modern menciptakan suatu teknologi yang canggih untuk meraih cita-cita utama: bagaimana hidup lebih panjang, lebih sehat, lebih bugar, tanpa harus takut dengan terjangan ketuaan.

Ide ini hampir-hampir merupakan gagasan yang asing pada semua agama, baik Islam atau pun yang lain. Dalam agama, biasanya tekanan lebih diberikan pada "roh", bukan "tubuh". Bahkan, dalam agama-agama, ada kecenderungan untuk melihat tubuh secara sinikal sebagai sumber segala godaan. Kalau dalam agama kita boleh membayangkan bahwa paradigma utama di sana adalah spiritualism (jiwa-isme), maka dalam dunia modern, kita melihat hal sebaliknya: bodyism (badan-isme).

Saya tidak mau menilai mana yang lebih baik: jiwa-isme atau badan-isme. Saya hanya mau menunjukkan bahwa usaha manusia modern untuk mati-matian hidup lebih panjang dan sehat patut kita kagumi. Segala jenis obat dan kiat diciptakan untuk mengatasi ketuaan. Saya memandang bahwa kegigihan seperti ini tak mungkin muncul kecuali dari semangat "mencintai hidup, mencitai tubuh" yang begitu kuat.

Ada sejumlah hal positif yang kita jumpai dalam semangat ini. Meskipun kecintaan pada tubuh yang berlebihan kadang-kadang membangkitkan rasa muak. Bahkan, kita juga perlu bersifat kritis pada "industri kebugaran", sebab cara kita memandang tubuh yang bugar sudah ditentukan secara sepihak oleh kaum industrialis, dan kita seolah-olah kehilangan kemerdekaan atas tubuh kita sendiri. Dalam soal tubuh ini, kita, manusia modern, mungkin sudah bukan lagi bersifat "otonom", tetapi "heteronom".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar